olimpiade

now browsing by tag

 
 

Rafael Nadal Lebih Suka Olimpiade Ditunda Lagi

Rafael Nadal berharap Olimpiade 2020 ditunda setahun lagi.

Jakarta – Kelanjutan Olimpiade 2020 Tokyo dalam tanda tanya menyusul protes dari warga Jepang. Petenis top Rafael Nadal mengaku lebih suka ajang ini ditunda setahun lagi.

Olimpiade 2020 Tokyo sudah mengalami penundaan setahun akibat pandemi COVID-19. Ajang olahraga multicabang itu dijadwalkan akan digelar pada 23 Juli-8 Agustus mendatang di ibukota Jepang.

Namun sekitar dua bulan menuju gelaran tersebut, penolakan muncul dari masyarakat Jepang karena kasus COVID-19 yang meningkat. Hingga Jumat (14/5/2021) kemarin, sudah ada lebih dari 350 ribu orang menandatangani petisi untuk membatalkan Olimpiade Tokyo.

Petenis peringkat 3 dunia, Rafael Nadal, mengaku lebih setuju Olimpiade kembali ditunda setahun. Dengan penundaan tersebut, ia berharap vaksinasi sudah mencakup mayoritas penduduk dunia dan ajang bisa digelar dengan penonton.

“Saya tak bisa bilang apakah Olimpiade harus digelar atau tidak. Apa yang harus dilakukan akan dilakukan. Keputusan-keputusan telah dibuat, memprioritaskan kesehatan para atlet dan masyarat,” ungkapnya dikutip Marca.

“Dalam level romantis, saya akan memilih untuk menunggu setahun lagi karena mayoritas populasi bakal sudah divaksin. Ajang olahraga terbesar di dunia tanpa audiens itu tidak sama rasanya,” imbuh Rafael Nadal.

Japang sejauh ini tercatat melaporkan hampir 700 ribu kasus COVID-19, dengan 11,463 di antaranya meninggal dunia.

SK Tim CdM Olimpiade Segera Terbit

SK Tim CdM Olimpiade Segera Terbit. Foto: Photo by Clive Rose/Getty Images

Jakarta – Komite Olimpiade Indonesia (KOI) segera menerbitkan SK (Surat Keputusan) tim Chef de Mission (CdM) Olimpiade yang dipimpin Rosan P. Roeslani. Langkah ini diharapkan bisa mempermudah gerak Rosan dkk.

Kabar itu dipertegas Sekretaris Jenderal KOI, Ferry Kono, yang menyebut SK tim CdM kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2020 Tokyo akan keluar pekan ini. Dengan demikian, tim CdM dapat bergerak maksimal menyiapkan kebutuhan Merah Putih menuju Negeri Sakura.

“KOI akan mengeluarkan SK Tim CdM tahap awal yang beranggotakan 10 orang, sehingga mereka bisa langsung bekerja mulai pekan depan,” ujar Ferry dalam keterangan rilisnya.

Penerbitan SK tersebut merupakan kelanjutan dari penunjukan CdM Kontingen Indonesia untuk Olimpiade Tokyo Rosan P Roeslani pada akhir Desember 2019. Tim CdM nantinya akan bekerja di Lantai 16 Kantor NOC Indonesia, Senayan, Jakarta.

Ferry menjelaskan anggota Tim CdM masih akan bertambah. Sebab, perwakilan NOC Indonesia belum diikutsertakan dalam SK Tim CdM Tahap Awal. “Kami masih menghitung berapa orang yang akan bergabung di SK Tim CdM, yang jelas dari NOC Indonesia jumlahnya terbatas karena situasinya pandemi,” kata Ferry.

“Kami juga akan memasukkan pihak KBRI di Tokyo dalam SK Tim CdM guna memudahkan koordinasi persiapan. Termasuk WNI di Tokyo atau mungkin TKI yang mungkin bisa membantu support makanan.”

Sebelum rencana penerbitan SK muncul, Rosan bersama KOI telah bergerak dengan mengunjungi Pelatnas bulutangkis di Cipayung pada akhir April lalu. Ia memantau perfoma Greysia Polii dkk serta mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan jelang pertandingan.

“Ini masa yang tidak gampang. Kita harus terlatih untuk menjalankan protokol kesehatan agar tetap sehat dan terhindar dari COVID-19. Waktu sudah dekat, tolong atlet-atlet menjaga diri karena sebaik apa pun persiapan percuma jika saat jelang keberangkatan ke Olimpiade justru terkena terpapar COVID-19,” ucap Rosan memberi pesan saat itu.

Ke depannya, Rosan berjanji akan lebih intens meninjau persiapan Pelatnas cabor lainnya. Seperti atletik, angkat besi, serta panahan, dan cabang olahraga lainnya yang dinilai berpeluang lolos kualifikasi. Olimpiade Tokyo berlangsung 23 Juli-8 Agustus digelar secara extraordinary karena pandemi COVID-19.

Panitia Pelaksana Olimpiade Tokyo (TOCOG) telah menerbitkan Playbook Tahap II yang berisi panduan protokol kesehatan selama Olimpiade, seperti kewajiban tes COVID-19 sebanyak dua kali sebelum keberangkatan hingga tes berkala selama penyelenggaraan berlangsung.

Susun Grand Design, Kemenpora: Target Kita 10 Besar Olimpiade 2032

Foto: kemenpora

Jakarta – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI telah menyusun grand design olahraga nasional untuk meningkatkan prestasi RI di tingkat internasional. Salah satu muatannya yaitu penetapan 14 cabang olahraga unggulan yang akan diikutsertakan dalam event olahraga internasional Olimpiade dan Paralimpiade.

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora, Chandra Bhakti mengatakan ke-14 cabang olahraga tersebut ditetapkan dengan menyesuaikan kemampuan fisik orang Indonesia yang mengutamakan teknik dan akurasi.

“Pemilihan 14 cabang olahraga ini sudah melalui satu kajian. Kita melihat lebih pada olahraga yang mengutamakan teknik dan akurasi, bukan yang mengandalkan fisik. Karena fisik kita jika diukur dengan orang Eropa dan Amerika tentu kita kalah fisik,” kata Chandra dalam keterangan tertulis, Rabu (5/5/2021).

Hal tersebut dia ungkapkan di acara Media Gathering, di kawasan Harmoni, Jakarta, Selasa (4/5). Chandra menjelaskan, dari 14 cabang olahraga ini, beberapa di antaranya kerap menorehkan prestasi di kancah internasional, seperti bulu tangkis, angkat besi, panahan, menembak dan lainnya. Selain itu, pola pembinaan mereka selama ini dinilai berjalan dengan baik.

“Tetapi 14 cabor ini bisa saja salah satunya akan terjadi degradasi ketika misalnya terjadi gesekan (dalam organisasi). Salah satunya cabang olahraga ini misalnya terjadi dualism atau tigalisme. Bisa juga yang tadi tidak masuk 14 ini karena pembinaannya baik bisa masuk ini bukan harga mati 14 cabang olahraga ini,” terangnya.

Menurutnya diperlukan pola pembinaan atlet sejak usia dini dalam rangka meningkatkan prestasi di event internasional. Utamanya olimpiade dan paralimpiade yang merupakan sasaran utama dalam grand design olahraga nasional.

“Prestasi atlet kita selama ini itu datang dari atlet itu sendiri, artinya prestasi itu by accident bukan by design. Dalam konteks yang lebih luas, maka kita perlu mempersiapkan sebuah konsep, sebuah perencanaan agar atlet kita bisa mencapai puncak prestasinya,” tuturnya.

Apalagi Indonesia ditargetkan menjadi tuan rumah dan tengah dalam proses bidding untuk olimpiade 2032 mendatang. Dia menyebut pemerintah tidak ingin Indonesia hanya sekadar jadi penyelenggara, melainkan harus sukses meraih prestasi, bahkan masuk ke dalam 10 besar peraih medali terbanyak.

“Target kita adalah Indonesia maju. 10 besar besar olimpiade dan para olimpiade 2032. Kenapa? kita sama ketahui bahwa kita ingin bahwa kita menjadi tuan rumah olimpiade dan paralimpiade. Tentu kalau kita nanti menjadi tuan rumahnya, kita tidak hanya ingin sukses penyelenggaraan. Tapi juga sukses prestasi. Oleh karena itu paralel dengan penyiapan dengan menjadi tuan rumah kita harus melakukan proses itu, kita menyiapkan atlet jadi upaya kita dalam hal pembinaan jangka panjang,” tandasnya.

Sementara itu, terkait kekhawatiran banyak pihak desain besar yang tersusun saat ini akan berubah lagi saat pergantian pemerintahan, Chandra memastikan pihaknya bersama stakeholder telah meletakkan sistem pola pembinaan atlet hingga tahun 2045 nanti.

“Tentu Pak Mentri melihat prestasi ini harus didesain, makanya kami menyusun grand design, sistemnya kami bentuk. Dan ini harus kami realisasikan, oleh karena itu harus kami bungkus dengan regulasinya Peraturan Presiden (Perpres),” jelasnya.

KOI: Kontingen Olimpiade Butuh Rp 38 Miliar untuk Penerbangan Bisnis

Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Ferry Kono (dok KOI)

Jakarta – Anggaran kontingen Indonesia menuju Olimpiade 2020 diprediksi mencapai Rp 38 miliar. Jumlah itu sudah menyesuaikan dengan pesawat penerbangan bisnis.

Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Ferry Kono menjelaskan pihaknya telah mengkalkulasi kebutuhan kontingen Indonesia ke Tokyo sebesar Rp 35 miliar – Rp 38 miliar.

Jumlah ini sudah termasuk tiket pesawat kelas bisnis pulang dan pergi yang diperuntukkan khusus bagi atlet Merah Putih sebagaimana arahan dari Presiden Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari dan Chef de Mission Rosan P. Roeslani.

“Kualifikasi Olimpiade masih berlangsung. Asumsi kami jika banyak yang lolos kualifikasi artinya membutuhkan budget kurang lebih Rp 38 miliar, tetapi jika sedikit yang lolos berarti ada di batas bawah yaitu Rp 35 miliar,” kata Ferry dalam keterangan rilisnya.

Ferry menambahkan, KOI masih perlu berdiskusi lebih lanjut dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait fasilitas tiket pesawat kelas bisnis bagi atlet Olimpiade. Sebab, dua cabang olahraga yaitu bulu tangkis dan angkat besi berencana berangkat lebih dulu pada 9 Juni untuk keperluan training camp (TC) di Negeri Sakura.

Sebelumnya, pemerintah melalui Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto juga disebut telah menyiapkan anggaran kontingen sebesar Rp 30 miliar. Gatot mengungkap angka tersebut sudah menyesuaikan dengan perkiraan jumlah atletnya pada kisaran 30 orang. Tapi tak menutup kemungkinan bertambah jika ada usulan dari KOI.

“Ini perlu kami koordinasikan lebih dulu karena TC di Jepang menggunakan dana Kemenpora. Apabila memungkinkan, atlet Olimpiade yang berangkat lebih dulu bisa mendapat fasilitas kelas bisnis dengan menggunakan dana kontingen,” dia menurutkan.

“Jika tidak bisa, mereka akan berangkat dengan kelas ekonomi tetapi pulang dari Olimpiade menggunakan kelas bisnis,” tambahnya.